Thursday, November 15, 2018
Home > Artikel > Kutipan Mata Najwa Paling Populer, Wajib Baca!

Kutipan Mata Najwa Paling Populer, Wajib Baca!

Mata Najwa 6 Desember 2015 ~ SIDANG RAKYAT – MOSI TIDAK PERCAYA

Kegaduhan freeport harus memberi renungan lebih dari sekedar mencari siapa setan dan pahlawan. Jangan terkecoh dengan panasnya perdebatan laku saling serang sidang dewan kehormatan. Skandal rekaman jelas menujukkan para benalu tak tahu malu hidup kekal berkelanjutan. Pejabat yang gemar mencari rente dengan menjual negeri pada dasarnya telah membinasakan dirinya. Jika sidang etik bisa dipermainkan tanpa secuil kehormatan sidang rakyat harus bisa melawan. Sidang itu tak boleh hanya jadi tontonan apalagi degelan ini ujian integritas bagi dewan kehormatan. Segelintir oligarki yang menguasai aset negara sudah waktunya dihukm keras dengan mosi tidak percaya.

Mata Najwa 16 September 2015 Kerja DPR NOL BESAR Tunjangan & Gaji Naik Fantastis!

Hikayat wakil rakyat kita masih diramaikan kisah hura-hura belaka. Advokasi dan mutu legislasi melambat, sementara perjuangan kesejahteraan anggota sendiri meningkat. Kunjungan kerha jadi sorotan sebab kandungannya lebih mirip pelesiran. Ada pula pimpinan parlemen kita seolah mencatut rakyatnya untuk politik di Amerika sana. Mudah memanjakan calon presiden orang gampang berempati soal-soal rakyati sendiri. 560 waakil rakyat ini bukan sembarang dipilih untuk lantang dan kencang. Berbicara untuk dan atas nama kita bukan semata urusan anggaran mereka. Memperbaiki martabat anggota dewan memang butuh seluruh rakyat dan segenap tekad kuat.

Mata Najwa 9 Mei 2015 ~ Habibie dan Suara Anak Negeri

Proklamasi harusnya tak berhenti sekedar deklarasi sebab merdeka mestinya bukan alat propaganda. Indonesia adalah kata kerja mimpi-mimpi yang harus digubah menjadi nyata. Tugas demi tugas sudah menunggu di depan mata. Kita semua yang harus menuntaskannya. Tak ada tempat untuk pesimisme, masa depan harus dijemput dengan antusiasme. Kita adalah anak panah yang harus meluncur sangat banyak sawah ladang yang mesti dicangkul. Tanah air adalah petak-petak yang harus diolah tanah air adalah lautan yang harus dibelah. Keberanian menjadi panglima keseriusan sebagai bendera dan optimisme menjelma sepucuk doa. Semua harus kita yang mengerjakan tak ada gunanya mengharap uluran tangan. Karena nasionalisme bukan slogan mati tapi pengorbanan kolektif membela visi.

Mata Najwa 30 April 2016 ~ Lakon Politik Republik

Walau politik mensyaratkn ada yang kalah dan menang demokrasi akan tetap menjaga semua kepentingan. Demokrasi bisa terlihat lamban dan enjengkelkan ketika politik penuh keributan dan pertengkaran. Saat kebebasan dipakai untuk mengeruk keuntungan saat kemerdekaan tak lekas menjelma kesejahteraan. Ketika hak berbicara dipakai menghujat sesama ketika hak berserikat dipakai untuk menggilas yang berbeda. Kejahatan dan pembiaran jelas ada dimana-mana tapi orang baik tak pernah habis di tanah air kita. Kebaikan akan selalu memancarkan inspirasi selalu ada orang hebat yang bekerja tanpa henti. Demokrasi mamang bukan sistem yang sempurna karena kesempurnaan hanya ada di surga. Demokrasi adalah ruang terbuka yang hidup dan dihidupkan oleh warga. Dan itu adalah usaha Anda ikhtiar Saya dan kerja kita semua.

Mata Najwa 4 Mei 2016 ~ Mencuri Keadilan (BONGKAR Kebobrokan MA)

Hampir 20 Tahun usia reformasi penegakan hukum kita masih penuh sengsi. Mafia peradilan tetap merajalela pejabat penegak hukum menjadi turut serta. Keluhan suap calo dan perantara sama banyaknya dengan laporan penundaan perkara. Rule of Law Index 2015 meniliti 102 negara Indonesia ada di peringkat bawah. Ketika integritas dan etika peradilan Indonesia rendah keadilan menjadi korban pertama. Beracara di pengadilan kerap tertunfa seolah hukum memang sudah punya harga. Kebenaran dan kepastian pun mengapung di antara uang dan kuasa yang mengepung. Saat hukum menjadi urusan jual beli keadilan telah dicuri oleh penjaganya sendiri.

Mata Najwa 23 Desember 2015 ~ Mimpi Negeri Bebas Korupsi

Pemberantasan korupsi dan KPK tahun ini masih isu yang paling menyita. Tahun 2015 dibuka sejumlah peristiwa pelemahan ditutup oleh lesunya pergantian pimpinan. Dengan hormat pada komisioner yang terpilih maaf jka standar seleksi publik sangat tinggi. Jawablah semu a nada lesu dan ragu karena rakyat jelas menunggu. Catatan 2015 layak menjadi renungan kita dukungan publik sendirian saja apalah jadinya. Imaji antikorupsi ala publik tak serta merta seturut kehendak penguasa politik. Jangan harap korupsi bisa diberantas jika dukungan politik yang justru dipangkas. Memberantas korupsi butuh dukungan semesta dari partai politik dan terutama kepala negara. Sungguh celaka demokrasi kita jika tuntuntan publik soal korupsi disepelkan wakil rakyat.

Mata Najwa 20 April 2016 – PALU IBU HAKIM

Seperti semesta yang menghormati keragaman di peradilan kita butuh keseimbangan. Sejumlah hakim perempuan dalam kepungan maskulintas bisa menjaga diri dan menunjukkan integritas. Karir hakim perempuan yang begitu langka perlahan kini terjawab dengan bukti kinerja. Stereotip perempuan irasional mengedepankan hati selayaknya ditanggalkan diganti basis kualifikasi. Sejujurnya kesemptan unuk sama telah terbuka namun beban ganda perempuan masih jadi kendala. Ketegasan dan kerasionalan hasil pendidikan bukan kodrat yang tak ada dari perempuan. Karena kelmbutan dan kepekaan bukan kelemahan tapi keragaman yang dibutuhkan ruang peradilan.

Mata Najwa 11 November 2015 ~ Panggung Teater KOMA

Teater koma sering mengkritik penguasa dari lakon sampek eng tay hingga opera kecoa. Pengelolanya bolak-nalik ke kantor polisi kenyang menghadapi sesi-sesi interogasi. Penguasa terus menerus mengawasi sebab dicurigai berbuat subversi. Bahkan diktator bisa cemas dengan seni apalagi jika sudah bicara soal suksesi. Rezim tiran sudah lama diganti suksesi kini menjadi hal yang pasti. Represi bukan semata dari aparat negara tekanan bisa datang dari mereka yang tak siap berbeda. Korupsi pun jelas masih ada bahkan kian menyebar dan merajalela. Teater masih bisa tetap relevan selama sanggup merespons kenyataan. Hampir empat dekade usia teater koma 100 lebih karyanya mewarnai Indonesia. Jangan bosan bicara tentang kebenaran agar demokrasi tak berakhir dengan kesia-siaan.

Mata Najwa 30 Desember 2015 ~ Panggung Titiek Puspa Musisi Papan Atas Indonesia

Apa rahasia titiek puspa berbahagia yang kita lihat biduanita yang selalu tertawa ceria. Suaranya menjadi tteman bagi tga zaman juga membuktikan bahwa kekuasaan pun membutuhkan nyanyian. Ia masih akan bernyanyi hingga entah kapan mungkin hingga jwa terpisah dari badan. Karena muik belahan jiwa baginya, ia akan terus berdendang apapun keadanya. Kebahagiaaan mamang rahasi terdalam sebuah hati, itulah mengapa kita masih juga bernyanyi. Lagu-lagu bagai pantulan perasaan menjadi gema yang abadi dalam ingatan. Bayangkan hidupmu seperti nyantian seperti nyanyian mungkin segala kepahitan bisa sedikit ditanggungkan. Panjang umurlah segala penyanyi mereka yang menemani kita dari hari ke hari.

Mata Najwa 28 Oktober 2015 – Rahasia Dahsyat Di Balik Suksesnya Go-Jek & BukaLapak.com

Indonesia tak tersusun dari batas peta, tapi gerak dan peran besar kaum muda. Pemuda hari ini harus turun tangan berkarya nyata menjawab semesta indonesia. Menjaga negara dari gelap mata kuasa berpihak pada setiap masalah nyata warga negara. Tidak sekedar memburu kapital indonesia lebih butuh solidaritas dan modal sosial. Pada kaum muda kita menitip masa depan. Jangan biarkan jiwa mereka hangus oleh ego dan dendam. Buat apa wilayah seluas sabang samapai merauke jika pemudanya kehilangan idealisme. Pemuda masa silam menggelorakan kehendak bersatu. Hari ini rakyatlah indonesia tanpa ragu.

Mata Najwa 11 Mei 2016 ~ Tak Sekedar Membaca

Jika melek aksara telah menjadi hal biasa minat baca adalah hal yang istimewa. Sekedar mengeja telah menjadi kebiasaan namun gemar membaca adalah keistimewaan. Meningkatkan minat baca mamang tak gampang berbagai kendala banyak menghadang. Budaya menonton kian merajalela sosial media lebih menggoda ketimbang pustaka. Buku- buku memang terus diproduksi tapi tak serta merta meningkatkan literasi. Belum llagi persoalan distribusi buku-buku sulit diakses mereka yang terisolasi. Perpustakaan hanya diisi diktat dan kisi-kisi sedikit yang bisa menghidupkan imajinasi. Terpujilah mereka yang gigih sebarkan bahan bacaan kepada mereka yang haus ilmu pengetahuan. Merekalah yang menyodorkan jendela dunia agar anak-anak bangsa dapat berpikir seluas cakrawala. Agar kita menjadi negara yang maju menjadi bangsa yang melahirkan para penemu.

Mata Najwa 2 Maret 2016 ~ Wajah Penjara (Kondisi Penjara di MEDAN)

Penjara-penjara di Indonesia amat tidak manusiawi kapasitasnya tak memadai dengan jumlah para napi. Pesakitan berdesakan setiap hari bahkan untuk tidurpun harus saling berganti. Hukum rimba merjalela di penjara siapa kuat ia yang akan berkuasa. Narkoba beredar dengan mudah tak jarang pemakai keluar penjara siap jadi pengedar. Saat para pejabat terus menrus ditangkapi infrastruktur penjara tak kunjung diperbaiki. Penjara kahirnya ak jadi lembaga pemasyarakatan justru menjadi pabrik kejahatan. Inilah lingkaran setan di dalam penjara PR besar penegakan hukum negeri kita.

Kata Mutiara Mata Najwa 3 Februari 2016 ~ Sesal Mantan Teroris

Deradikalisasi cukup sulit dilakukan, keyakinan memang tak mudah dirobohkan. Saat ideologi telah mengkristal jadi jalan hidup pikiran pun sudah sepenuhnya tertutup. Mereka hanya mau melihat dengan kacamata kuda, tak sudi lagi mendengar pendangan yang berbeda. Segala pemerayuan pemenjaraan hingga ancaman kematian tak mudah menggoyahkan keyakinan. Menjadi penting mempelajari mereka yang tobat agar deradikalisasi tidak salah alamat. Jangan gampang membuat aneka stigma agar pelaku tak measa ditolak dimana-mana. Stigma dan penghakiman yang terus menerus membuat kebencian dan dendam terus mendengus. Buat apa mencoba hidup damai di tengah masyarakat jika penghidupan tak kunjung meningkat. Deradikalisasi harus menyangkut keadilan. Terorisme lahir karena ketimpangan dan penindasan. Inilah jalan panjang menuju pertobatan, sebab keadilan memang tak gampang direalisasikan.

Mata Kata Bijak Mata Najwa 26 Agustus 2015 ~ PENYERU PERLAWANAN
Dalam dunia penuh pura-pura, anak muda sibuk meisahkan dusta dari kata. Mereka ada di hutan dan di tanah kita di lorong pabrik dan jalan raya. Pemuda tak sempat jadi anak manis melihat kepogahan terus begitu sinis. Ruang publik didefinisikan oleh uang air kampung pun kering kerontang. Alam berubah menjadi bencana atas nama investasi sudi dikeruk dan dijarah. Bagaimana anak muda bisa diam ketika aparat justru miskin teladan. Apa yang salah dibenarkan tersesat dalam pekatnya konflik kepentingan. Mari menyeru perlawanan lewat berbagai cara, bekerja, mencipta, bersuara, bergerak dalam karya. Karena asa tidak hanya ada di tangan penguasa tapi dalam kehendak warga yang berdaya.

Mata Najwa 16 Maret 2016 ~ Pertarungan Ahok

Ahok menawarkan kontroversi daya tarik dan daya toak bisa sama tinggi. Para penantang menyebutnya tak ramah tegas tidak perlu mencaci dan marah-marah. Kepemimpinan Ahok membawa harapan sekaligus sejumlah kecamasan. Dia galak menunding praktik korupsi tapi dianggap ringan menggusur sana sini. Ahok disebut tahu dan cakap bekerja. Pengikutnya mempertanyakan untuk siapa Ahok bekerja?. Ahok punya sejumlah kelebihan mendasar di saat yang sama kekurangan untuk medengar. Pilkada Jakaarta bukan pertaruhan Ahok semata. Api masa depan nasib warga. Sah saja memperjuangkan aspirasi Anda. Bersiaplah untuk berbeda dengan santun dan dewasa. Memilih dengan segenap akal sehat, menimbang visi dan watak seraya mendahulukan rekam jejak.

Mata Najwa 2 September 2015 ~ Siapa Yang Layak Pimpin KPK

Mencari komisioner KPK butuh negarawan, mereka yang tahu apa yang jadi kebutuhan. Paham apa masalah negara ini dimulai dengan melepaskan kepentingan dana filiasi. Butuh seluruh dukungan politik untuk KPK bekerja dari kepala negara hingga wakil rakyat kita. Tak ada capim yang layak tanpa proses dan seleksi yang ketat. Hebat memutuskan sosok berkualitas, berani mengabaikan yang tak pantas. Komisioner KPK bukan hasil politik representasi, tak otomatis hakim, jaksa atau polisi. Memutuskan komisoner selalu soal kapasitas dan tentu saja kejelasan integritas. Kita butuh KPK baru yang berwibawa di saat yang sama bijak untuk bekerja sama. Menjadikan sesama penegak hukum sebagai mitra seraya terus membersihkan sapu kotor mereka.

Mata Najwa 6 Januari 2016 FULL ~ Harap Harap Cemas

Sungguh merugi hidup bangsa jika energi habis tumah mengurus gaduh politik yang durhaka. Kita perlu belajar darisejarah yang begitu jelas mengurangi gaduh politik yang kerap tak berkelas. Tahun 2016 rakyat butuh bukti bahwa politik tidak abai dan tuli. Mereka yang dipilih dengan suara jangan berlagak lupa menggunakan mata dan telinga. Politisi yang tiba-tiba lupa untuk siapa dia berdiri terbelenggu oligarki dan godaan duniawi. Kegaduhan di 2015 pekat intrik elit begitu sedikit memperjuangkan kepentingan publik. Celakalah pejabat yang menunggangi negara keiprahnya jauh dari bijaksana. 2016 harus jadi tahun keadaban mengabdi bukan mencuri pengorbanan daripada pembebanan.

Mata Najwa 09 September 2015 ~ Panggung GODBLESS

Teruntuk mereka yg bersemangat muda, musik rock adalah makanan bagi jiwa. Rock yang memancing teriakan dan jejingkrakan, adalah anarki yang mencairkan tatanan. God Bless pernah jadi katarsis bagi yang berjiwa muda saat politik hanya “sekadar panggung sandiwara”. Sebab pecinta musik rock menghargai kejujuran sikap terbuka “tanpa hiasan tanpa lukisan”. Daripada menjilat penguasa yang tingkahnya bikin geli, mereka lebih suka “menjilati matahari”. Jiwa-jiwa gelisah yang mencari “semut hitam” di antara sumpek dan pengapnya kehidupan. Mereka menyukai “bukit yang terbuka”, “sebatang sungai yang membelah cerahnya huma”. Mari bersuka jangan berdusta, dengan musik rock sebagai pengantarnya. Lompat-lompatlah ke udara sambil teriak sekeras-kerasnya. Tak ada yang bisa menjadi penghalang, sebab “rumah kita hanya berpagar alang-alang”. Panjang umurlah hai God Bless.
Karena sungguh engkau ini milik kita.

Mata Najwa 9 Desember 2015 ~ Mencari Negarawan ~ Live Event Pilkada Serentak

Seharusnya pemimpin bergantung kepada rakyat sebab kita bukan mainan elit dan pejabat. Tapi rakyat kerap dianggap seperti kerbau yang dungu. Para elit bersandiwara tanpa rasa malu. Skandal yang telanjang pun ditutupi dengan luar biasa. Seakan rakyat itu buta dan tak tahu apa-apa. Suara rakyat dengan gampang diabaikan. Kepentingan bos yang justru diutamakan. Tapi apatisme adalah pedang bermata dua. Justru bisa menguntungkan elit yang berkuasa. Memilih bisa menjadi alat hukuman bagi kandidat yang tak dipilih karena buruknya perbuatan. Kita semua harus benar-benar berdaya dengan singkirkan elit yang bertingkah seenaknya. Jika bisan denga polah wakil rakyat yang janggal. Jangan ditambah emmilih kepala daerah yang bebal. Jangan sampai ada papa yang minta saham di daerah. Sebab tanah dan air di daerah bukan milih para penjarah.

Mata Najwa 10 Februari 2016 FULL ~ MELAWAN NEGARA

Rakyat biasa harus lancang berpekara membela diri sendiri menjadi pengacara. Saat negara menginjak hak hidup mereka. Orang-orang bersahaja dipaksa berpekara. Memilih jalur hukum mebela nasib walau dunia hukum sepenuhnya asing. Tak ada pengacara yang membela, mungkin karena mereka bukan siapa-siapa. Sebutlah mereka melek hak kewargaaan atau kedzaliman sudah teramat keterlaluan. Mereka mengetuk pintu peradilan dengan keras. Saat hak yang paling dasar telah dirampas. Kenyataannya sebagian mereka berhasil mengoreksi wajah negara yang tidak adil. Setiap orang-orang kecil bertindak. Kita melihat wajah negara terkoreksi lebih bijak. Jangan pernah takut membela hak Anda. Sebab keadilan bukan soal siapa tetapi apa dan bagaimana.

Mata Najwa 12 Agustus 2015 ~ Kocok Ulang Kabinet

Menteri-menteri boleh silih berganti tapi Tuan Presiden tak boleh kehilangan arah dan visi. Buat rakyat siapa Menterinya tak soal tapi ke mana arah negara dibawa ini menjadi pasal. Menteri-menteri hanya pelaksana dari kemauan dan capaian Nawacita. Presiden sebagai penunjuk arah, bukan pekerja atau pendengar titah. Menteri tak boleh hanya cakap bekerja
tapi ternyata tak bisa dipercaya. ‎Berjuang mewujudkan Nawacita bukan sekadar memasarkan bisnis negara. Kita butuh Mentri Ekonomi yang menunjang mengatasi besarnya pasak dari tiang. Membangun Indonesia dalam prioritas dan itu seharusnya hajat hidup orang banyak. Selamat datang Menteri-menteri pengganti, jangan pernah lupa untuk siapa Anda mengabdi.

Mata Najwa 12 September 2015 ~ CINTA UNTUK NEGERI

Tanah air adalah sebuah buku yg terbuka, setiap generasi harus mengisinya dengan karya yang menjadi pena adalah kebaikan, yang menjadi tinta adalah kemanusiaan. Masa depan bangsa menjadi karya bersama, dari rakyat jelata hingga pemimpin di singgasana. Yang harus dibabat adalah egoisme dan kebencian, yang mesti dirajut ialah solidaritas dan kepedulian. Sebab Indonesia dibangun tokoh-tokoh yg memandang jauh ke depan, bukan hanya sibuk sandang pangan apalagi perhiasan. Saatnya yang muda yang berperan dengan kreativitas yang tak gampang padam. Jangan takut dengan kegagalan, kerja keras dulu, pencapaian menyusul kemudian. Bekerja dan berbuatlah dengan sebait puisi, aku mau berkarya seribu tahun lagi.‎

Mata Najwa 16 September 2015 -~ DPR Dalam Pengawasan Rakyat

Hikayat wakil rakyat kita masih diramaikan kisah hura-hura belaka. Advokasi & mutu legislasi melambat, sementara perjuangan kesejahteraan anggota sendiri meningkat. Kunjungan kerja jadi sorotan, sebab kandungannya lebih mirip pelesiran. Ada pula pimpinan parlemen kita seolah mencatut rakyatnya untuk politik di Amerika sana. Mudah memanjakan calon presiden orang, gampang berempati soal-soal rakyat sendiri. 560 wakil rakyat ini bukan sembarang, dipilih untuk lantang & kencang. Berbicara untuk dan atas nama kita, Bukan semata urusan anggaran mereka. Memperbaiki martabat anggota dewan memang butuh seluruh rakyat dan segenap tekad kuat.

Mata Najwa 17 Februari 2016 ~ KPK RASA BARU (Menggantung Nasib KPK)

KPK tak habis-habisnya dilanda badai politik. Kita tahu itu tandanya kiprahnya begitu strategis. Diantara lembaga-lembaga negara yang begitu dipercaya. KPK selalu berada di deretan utama. Dan di situlah justru ironinya. Semakin dipercaya semakin sengit pula, kekuasaan menjadi gelisah. Komsioner baru berhadapan dengan masa depan sekaligus masalah warisaan masa silam. Menggantungnya proses hukum komisoner lama hingga tarik ulur kasusnya penyidik KPK. Ini waktunya pimpinan KPK membuktikan komitmen mereka berhadapan dengan ujian. Tes politik KPK juga ajang uji kepemimpinan publik menilai bagaimana pimpinan KPK bertahan

Mata Najwa 18 Nov 2015 Full ~ Pejabat Pemburu Rente

Para pemburu rente merajalela menggadaikan negara seperti terlatih dan sudah biasa. Kekuasaan yang bersekutu dengan korporasi sering tak malu menjual murah negerinya sendiri. Penyelahgunaan wewenang politik makin ramai dengan pelbagai taktik. Jangan salahkan watak korporasi melobi sesiapa penjabat berkuasa yang mudah dibeli. Itulah cara safari korporasi ke pejabat dan elit kasak-kusuk meminta beking politik. Kebiasaan lama yang sulit berubah terjadi karena korupsi dan ketamakan dianggap biasa. Selama para pejabat menghamba harta benda negara akan terus dijadikan sapi perah penguasa. Saham kosong dan proyrk tersedia begitulah kisah pejabat negara merendahkan dirinya. Pada merekalah konsep bela negara perlu diberikan mereka yang menjual indonesia melalui sebentuk kebijakan.

Mata Najwa 19 Agustus 2015 ~ Belajar Dari Jendral Sudirman

Pemimpin seperti Jenderal Soedirman tak akan pernah meninggalkan barisan. Ia bersedia menderita karena rakyat juga sedang merasakan nestapa.Daripada menyerah dan diasingkan, ia memilih gerilya di dusun dan pegunungan. Tidur di gubuk yang sama dengan pasukannya, makan dengan menu serupa dengan rakyatnya. Soedirman manunggal dengan rakyat, ia tak berjarak dengan yang melarat. Karena memimpin adalah juga menderita, bukan bermewah-mewah dengan harta. Dengan itulah ia memperjuangkan kemerdekaan dengan mempertaruhkan semua kemungkinan. Sebab kemerdekaan yang tak diperjuangkan, tidak akan pernah dimenangkan. Generasi berikutnya yang harus melanjutkan agar pengorbanan generasi soedirman tak disia-siakan. Karena kemerdekaan yang gagal diisi hanya akan menjadi narasi yang penuh basa-basi.

Mata Najwa 28 Januari 2015 ~ HARGA MATI KPK POLRI
Jika korupsi adalah menggerogoti pemerintahan, mengakkan hukum mutlak menjadi keharusan. Penegak hukum harus bersih sebesih-bersihnya agar koruptor tak lagi merajalela menebarkan perangkap dan jala. Dengan iming-iming kekayaan, koruptor merancang agenda busuk yang melemahkan. Amunisi ditebarkan ke delapan penjuru angin berharap ada penegak hukum yang sudi diajak main. Kasus lama dibuka lagi, dalam sehari dua hari komisioner KPK langsung dikriminalisasi. Koruptor bersorak riang dan suka hati karena pemberantasan korupsi bisa dihambat lagi. Tak ada yang diuntungkan dari perseteruan KPK dan korps Bhayangkara kecuali para pencoleng uang negara. KPK harus mau mendengar kritik. Polisi jangan juga bermain main dengan intrik. Pejabat yang kotor tak perlu dibela sepenuh jiwa. Itu merusak wibawa dan menyenangkan ara penyamun saja. KPK dan POLRI harus sama-sama kuat, sebab musuh piawai berganti mukka bersembunyi dalam berbagai rupa. Save KPK dan Bhayangkara. Sekali lagi, Save KPK dan POLRI!. Karena kita butuh aparat yang bernyali, ang tak ragu memangkas benalu yang tumbuh di rumah sendiri.

Najwa 4 Maret 2015 ~ Belajar dari Gus Dur Mata

Gud Dur serang pelintas tanpa batas berbagai sekat ia terabas. Ia tak bisa dimasukkan ke dalam kategori Sebab kiprahnya melintasi berbagai teritori. Seorang kyai sekaligus politisi. Ia penulis sekalis juga aktivis. Jadi presiden tak membuatnya terkekang kekuasaan tak membuat komitmennya berkurang. Ynag monoritas diangkatnya secara terhormat dilumerkannya berbagai prasangka yang meyekat. Akibatnya gus dur sering dihinggapi praduga, padahal dia yang cairkan banyak prasangka. Tapi ida bisa santai menghadapi tekanan sebab jabatan baginya bukanlah tujuan. Sebelum lawan mencemooh dan mengejeknya Gus Dur lebih dulu menertawakan dirinya. Humor menjadi jalan pembebasan dari bujuk rayu kuasa yang menjerumuskan. Toh hidup hanya menunda kekalahan santai sajalah dengan kekuasaan. Dengan itulah Gus Dur jadi amat berbobot begitu saja kok repot.

 

Judul mana yang kamu sukai dari kutipan mata najwa di atas?? silakan jawab melalui form di bawah ini yaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!