Friday, May 25, 2018
Home > Artikel > Informasi, Pertimbangan, dan Keputusan dalam Evaluasi Pembelajaran

Informasi, Pertimbangan, dan Keputusan dalam Evaluasi Pembelajaran

A. Latar Belakang Masalah
Evaluasi dan penilaian pada hakikatnya merupakan suatu proses membuat keputusan tentang nilai suatu objek. Keputusan penilaian (value judgement) tidak hanya didasarkan kepada hasil pengukuran (quantitative description), tetapi dapat pula didasarkan kepada hasil pengamatan dan wawancara (qualitative description).
Kegiatan evaluasi yang komprehensif adalah yang meliputi baik proses pemberian keputusan tentang nilai dan proses keputusan tentang arti, tetapi hal ini tidak berarti bahwa suatu kegiatan evaluasi harus selalu meliputi keduanya.
Evaluasi adalah suatu proses dimana pertimbangan atau keputusan suatu nilai dibuat dari berbagai pengamatan, latar belakang serta pelatihan dari evaluator). Dari dua rumusan tentang evaluasi ini, dapat kita peroleh gambaran bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) daripada sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu untuk membuat suatu keputusan.
Evaluasi memberikan manfaat untuk menciptakan peluang dari beberapa himpunan informasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif mengenai hasil dan kemajuan pembelajaran. Terbentuknya kemungkinan menciptakan relevansi antara program pembelajaran dengan program pendidikan secara umum. Sehingga dapat memberikan masukkan untuk dilakukan usaha-usaha perbaikan, penyesuaian dan penyempurnaan dari program pembelajaran yang dipandang perlu.
Evaluasi pembelajaran merupakan satu tahap penting dalam proses pembelajaran yang dilakukan di semua jenjang pendidikan. Proses ini juga merupakan langkah strategis dalam upaya meningkatkan output pembelajaran yang lebih terukur dan kompetitif.
Sesuai dengan kemampuan dasar yang ingin dicapai maka pengujian harus mencakup proses belajar, dan hasil belajar. Aspek proses belajar yaitu seluruh pengalaman belajar yang dilakukan oleh siswa sedangkan hasil belajar yaitu ketercapaian setiap kemampuan asar, baik kognitif, afektif dan psikomotorik siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dalam menghasilkan suatu evaluasi pembelajaran maka administrator atau seorang guru memerlukan informasi seputar pembelajaran, pertimbangan dalam menentukan sesuatu dan keputusan akhir. Keputusan dibuat berdasarkan pertimbangan yang matang. Informasi digunakan untuk melakukan pertimbangan yang akan dilakukan oleh seorang guru sebelum menentukan suatu keputusan akhir. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahasa ketiga istilah tersebut yaitu informasi, pertimbangan dan keputusan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana yang dimaksud pengumpulan informasi dalam evaluasi pembelajaran?
2. Bagaimana yang dimaksud pertimbangan dalam evaluasi pembelajaran?
3. Bagaimana yang dimaksud keputusan dalam evaluasi pembelajaran?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dan penjelasan mengenai pengumpulan informasi dalam evaluasi pembelajaran.
2. Untuk mengetahui definisi dan penjelasan mengenai pertimbangan dalam evaluasi pembelajaran.
3. Untuk mengetahui definisi dan penjelasan mengenai keputusan dalam evaluasi pembelajaran.

PEMBAHASAN

A. Pengumpulan Informasi dalam Evaluasi Pembelajaran
Suatu penilaian diperlukan suatu alat untuk mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan dalam sebuah penilaian. Tanpa adanya informasi maka evaluator tidak dapat memberikan penilaian apapun terhadap suatu kondisi yang ada. Hal ini menandakan betapa pentingnya alat untuk mengumpulkan informasi terkait evaluasi pembelajaran.
Informasi merupakan bahan baku untuk melakukan pertimbangan yang dilakukan baik melalui pengukuran maupun non-pengukuran. Evaluasi adalah proses penggambaran dan penyempurnaan informasi yang berguna untuk menetapkan alternatif. Untuk itu, guru harus dapat mengumpulkan data dan informasi dalam kurun waktu tertentu melalui berbagai jenis alat penilaian. Dengan mengumpulkan informasi guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik dalam bentuk laporan naratif maupun laporan kelas. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi prestasi dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. Bila informasi tentang hasil belajar siswa telah terkumpul dalam jumlah yang memadai, maka guru perlu membuat keputusan terhadap prestasi siswa.
Berbagai metode dan instrumen baik formal maupun nonformal digunakan dalam penilaian untuk mengumpulkan informasi. Informasi yang dikumpulkan menyangkut semua perubahan yang terjadi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan peserta didik dapat dilakukan berbagai teknik, baik berhubungan dengan proses maupun hasil belajar. Teknik mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik terhadap pencapaian kompetensi. Penilaian dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar, baik pada domain kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Berdasarkan pencarian sumber diperoleh beberapa metode pengumpulan informasi dalam evaluasi pembelajaran, seperti dalam buku Arikunto menyatakan bahwa teknik pengumpulan informasi adalah teknik nontes dan teknik tes. Berikut sedikit penjelasan mengenai kedua teknik pengumpulan informasi tersebut.
Teknik evaluasi nontes adalah melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Teknik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok. Tujuan Evaluasi non-tes adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan dengan tanpa ”menguji” peserta didik, melainkan dilakukan dengan menggunakan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire) dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis) serta dengan yang lainnya. (Anas Sudijono, 2009: 76).
Tujuan dan kegunaan Instrumen Non-tes, menurut Eko Putra Widoyoko, (2009: 104), antara lain:
a) Instrumen non-tes merupakan bagian dari alat ukur hasil peserta didik;
b) Untuk memperoleh hasil belajar non-tes terutama dilakukan untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan softskill, terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik dari apa yang diketahui atau dipahaminya.
c) Instrumen seperti itu terutama berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari pada pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati dengan panca indra.
d) Instrumen non-tes merupakan satu kesatuan dengan instrumen lainnya, karena tes pada umumnya mengukur apa yang diketahui, dipahami atau yang dapat dikuasai oleh peserta didik dalam tingkatan proses mental yang lebih tinggi. Akan tetapi, belum ada jaminan bahwa mereka memiliki mental itu dalam mendemonstrasikan dalam tingkah lakunya.
Beberapa instrumen non-tes yang sering digunakan dalam pengumpulan informasi evaluasi di bidang pendidikan diantaranya adalah riwayat hidup, observasi, angket, wawancara, daftar cek dan skala nilai/rating scale.

Tes menurut Brown (dalam Muri, 2015) pada prinsipnya merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengukur sampel tingkah laku seseorang. Setiap aspek dalam tingkah laku yang diukur sangat luas, sedangkan tes terbatas pada butir-butir tertentu. Tes yang baik harus mampu mengukur apa yang akan diukur (aspek validitas) dan konsisten atau stabil dalam mengukur apa yang akan diukur (aspek reliabilitas). Tes hendaknya objektif, praktis, dan norma. Sehingga dapat dikatakan tes merupakan suatu prosedur yang spesifik dan sistematis untuk mengukur tingkah laku seseorang, sehingga dapat digambarkan dengan bantuan angka, skala atau sistem kategori. Tes memiliki ciri yaitu menggunakan prosedur secara spesifik atau sistematis dan memiliki penskoran. Prosedur sistematis merujuk kepada penyusunan butir-butir soal yang harus mengikuti pola-pola, kaidah, dan aturan penyusunan instrumen yang benar. Penataan tes hendaknya memenuhi syarat pengadministrasian tes yang benar, demikian juga dalam penskoran tes.
Jenis tes bermacam-macam. Misalnya tes prestasi belajar (achievement test), tes penguasaan (proficiency test), tes bakat (aptitude test), tes diagnostik (diagnostic test). dan tes penempatan (placement test).
Jika dilihat dari bentuk jawaban peserta didik, maka tes dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. Tes tertulis ada dua bentuk, yaitu bentuk uraian (essay) dan bentuk objektif (objective).
Tes bentuk uraian adalah tes yang pertanyaannya membutuhkan jawaban uraian, baik uraian secara bebas maupun uraian secara terbatas. Tes bentuk uraian ini, khususnya bentuk uraian bebas menuntut kemampuan murid untuk mengorganisasikan dan merumuskan jawaban dengan menggunakan kata-kata sendiri serta dapat mengukur kecakapan murid untuk berpikir tinggi.
Tes objektif disebut objektif karena cara pemeriksaannya yang seragam terhadap semua murid yang mengikuti sebuah tes. Tes objektif juga dikenal dengan istilah tes jawaban pendek (short answer test) seperti melengkapi, pilihan ganda, mencocokkan, isian, benar-salah,

B. Pertimbangan dalam Evaluasi Pembelajaran
Dalam proses evaluasi harus ada pemberian pertimbangan (judgement). Pemberian pertimbangan ini pada dasarnya merupakan konsep dasar evaluasi. Melalui pertimbangan inilah ditentukan nilai dan arti (worth and merit) dari sesuatu yang sedang dievaluasi. Tanpa pemberian pertimbangan, suatu kegiatan bukanlah termasuk kategori kegiatan evaluasi.
Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan kriteria tertentu. Tanpa kriteria yang jelas, pertimbangan nilai dan arti yang diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi. Kriteria yang digunakan dapat saja berasal dari apa yang dievaluasi itu sendiri (internal), tetapi bisa juga berasal dari luar apa yang dievaluasi (eksternal), baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Jika yang dievaluasi itu adalah proses pembelajaran, maka kriteria yang dimaksud bisa saja dikembangkan dari karakteristik proses pembelajaran itu sendiri, tetapi dapat pula dikembangkan kriteria umum tentang proses pembelajaran. Kriteria ini penting dibuat oleh evaluator dengan pertimbangan (a) hasil evaluasi dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (b) evaluator lebih percaya diri (c) menghindari adanya unsur subjektifitas (d) memungkinkan hasil evaluasi akan sama sekalipun dilakukan pada waktu dan orang yang berbeda, dan (e) memberikan kemudahan bagi evaluator dalam melakukan penafsiran hasil evaluasi.
Kriteria sangat diperlukan untuk menentukan pencapaian indikator hasil belajar peserta didik yang sedang diukur. Dalam pengembangan kriteria untuk menentukan kualitas jawaban peserta didik, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain (a) kriteria harus meluas tetapi tidak memakan waktu, sehingga sulit dilaksanakan (b) dapat dipahami dengan jelas oleh peserta didik, orang tua dan guru (c) mencerminkan keadilan, dan (d) tidak merefleksikan variabel yang bias, latar belakang budaya, sosial-ekonomi, ras dan gender.
Berdasarkan rumusan pengertian tentang tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi yang telah penulis kemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada jenis evaluasi atau penilaian yang mempergunakan tes secara intensif sebagai alat pengumpulan data, seperti penilaian hasil belajar. Walaupun dalam perkembangan terakhir tentang jenis evaluasi atau penilaian seperti ini menunjukkan bahwa tes bukan satu-satunya alat pengumpul data. Namun demikian harus diakui pula, bahwa tes merupakan alat pengumpul data evaluasi dan penilaian yang paling tua dan penting. Tes bukanlah evaluasi, bahkan bukan pula pengukuran. Tes lebih sempit ruang lingkupnya dibandingkan pengukuran, dan pengukuran lebih sempit dibandingkan evaluasi.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa tes dibangun berdasarkan teori pengukuran tertentu. Tanpa bantuan teori pengukuran, maka pembuatan tes dapat dikatakan tidak mungkin. Bagaimana Anda harus membuat pertanyaan-pertanyaan dalam suatu tes, bagaimana Anda ingin mengukur derajat validitas dan reliabilitas tes berdasarkan teori psychometric, mencerminkan peranan teori pengukuran yang sangat besar dan penting. Pengukuran dalam psikometrik tidak lagi merupakan bagian integral ataupun suatu langkah yang selalu harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Pengukuran hanya merupakan salah satu langkah yang mungkin dipergunakan dalam kegiatan evaluasi.
Berdasarkan buku Arikunto (2011: 276) bahwa terdapat beberapa faktor yang turut dipertimbangkan dalam penilaian walaupun hal yang dinilai tak sama bagi setiap sekolah, namun secara garis besar dapat ditentukan unsur umum dalam penilaian yang menyangkut faktor-faktor yang harus dipertimbangkan. Unsur umum tersebut adalah:
a. Prestasi / pencapaian
Nilai prestasi harus mencerminkan tingkatan-tingkatan siswa sejauh mana telah dapat mencapai tujuan yang ditetapkan di setiap bidang studi. Simbol yang digunakan antuk menyatakan nilai, baik huruf maupun angka, hendaknya hanya merupakan gambaran tentang prestasi juga. Unsur pertimbangan atau kebijaksanaan guru tentang usaha dan tingkah laku siswa tidak boleh berbicara pada nilai tersebut.
b. Usaha
Terpisah dari nilai prestasi, guru dapat menyampaikan laporannya kepada orang tua siswa. Laporan atau nilai tidak boleh dicampuri dengan nilai prestasi sama sekali. Yang serig terjadi adalah kecenderungan guru untuk menilai unsur usaha ini lebih rendah bagi anak yang prestasinya rendah dan sebaliknya.
c. Aspek pribadi dan sosial
Unsur ini juga perlu dilaporkan terutama yang berhubungan dengan berlangsungnya proses belajar mengajar, misalnya menaati tata tertib sekolah. Dalam memberikan nilai pribadi ini guru harus berhati-hati sekali. Rentangan nilai sebaiknya tidak usah lebar-lebar (lebih baik 6-10). Lebih baik lagi jika diterangkan dengan khusus dan jelas sehingga mudah dimengerti oleh guru pembimbing dan siapa saja.
d. Kebiasaan bekerja
Yang dimaksud kebiasaan bekerja adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan melakukan tugas. Misalnya siswa segera mengerjakan PR, keuletan dalam usaha, bekerja teliti, kerapian bekerja, dan sebagainya.

C. Keputusan dalam Evaluasi Pembelajaran
Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas daripada sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai maupun arti. Sedangkan kegiatan untuk sampai kepada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi. Jika Anda melakukan kajian tentang evaluasi, maka yang Anda lakukan adalah mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas daripada sesuatu. Gambaran kualitas yang dimaksud merupakan konsekuensi logis dari proses evaluasi yang dilakukan. Proses tersebut tentu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, dalam arti terencana, sesuai dengan prosedur dan aturan, dan terus menerus.
Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan kualitas daripada sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti. S. Hamid Hasan secara tegas membedakan kedua istilah tersebut sebagai berikut : Pemberian nilai dilakukan apabila seorang evaluator memberikan pertimbangannya mengenai evaluan tanpa menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat dari luar. Jadi pertimbangan yang diberikan sepenuhnya berdasarkan apa evaluan itu sendiri.
Sedangkan arti, berhubungan dengan posisi dan peranan evaluan dalam suatu konteks tertentu. Kegiatan evaluasi yang komprehensif adalah yang meliputi baik proses pemberian keputusan tentang nilai dan proses keputusan tentang arti, tetapi hal ini tidak berarti bahwa suatu kegiatan evaluasi harus selalu meliputi keduanya. Pemberian nilai dan arti ini dalam bahasa yang dipergunakan Scriven (1967) adalah formatif dan sumatif. Jika formatif dan sumatif merupakan fungsi evaluasi, maka nilai dan arti adalah hasil kegiatan yang dilakukan oleh evaluasi.
Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, keputusan tersebut dapat menyangkut keputusan tentang peserta didik, keputusan tentang kurikulum dan program atau juga keputusan tentang kebijakan pendidikan. Keputusan tentang peserta didik meliputi pengelolaan pembelajaran, penempatan peserta didik sesuai dengan jenjang atau jenis program pendidikan, bimbingan dan konseling, dan menyeleksi peserta didik untuk pendidikan lebih lanjut. Keputusan tentang kurikulum dan program meliputi keefektifan (summative evaluation) dan bagaimana cara memperbaikinya (formative evaluation). Keputusan tentang kebijakan pendidikan dapat dibuat pada tingkat lokal/daerah (kabupaten/kota), regional (provinsi), dan tingkat nasional.
Keputusan penilaian terhadap suatu hasil belajar sangat bermanfaat untuk membantu peserta didik merefleksikan apa yang mereka ketahui, bagaimana mereka belajar, dan mendorong tanggung jawab dalam belajar. Keputusan penilaian dapat dibuat oleh guru, sesama peserta didik (peer) atau oleh dirinya sendiri (self-assessment). Pengambilan keputusan perlu menggunakan pertimbangan yang berbeda-beda dan membandingkan hasil penilaian. Pengambilan keputusan harus dapat membimbing peserta didik untuk melakukan perbaikan hasil belajar.

Dengan demikian, terdapat tiga komponen penting penilaian, yaitu informasi, pertimbangan, dan keputusan.
1. Informasi memberikan data-data (baik kuantitatif maupun kualitatif) yang berguna untuk pembuatan pertimbangan. Pertimbangan dimungkinkan tepat jika informasi yang diperoleh dan interpretasi terhadapnya juga tepat.
2. Pertimbangan adalah taksiran kondisi yang ada kini dan prediksi keadaan pada masa mendatang.
3. Keputusan yang diambil berdasarkan kedua komponen tersebut adalah pilihan di antara berbagai arah tindakan atau sejumlah alternatif yang ada.

KESIMPULAN

Informasi merupakan bahan baku untuk melakukan pertimbangan yang dilakukan baik melalui pengukuran maupun non-pengukuran. Dengan mengumpulkan informasi guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik dalam bentuk laporan naratif maupun laporan kelas. Metode pengumpulan informasi dalam evaluasi pembelajaran, seperti dalam buku Arikunto menyatakan bahwa teknik pengumpulan informasi adalah teknik nontes dan teknik tes.
Pemberian pertimbangan ini pada dasarnya merupakan konsep dasar evaluasi. Melalui pertimbangan inilah ditentukan nilai dan arti (worth and merit) dari sesuatu yang sedang dievaluasi. Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan kriteria tertentu. Tanpa kriteria yang jelas, pertimbangan nilai dan arti yang diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi.
Keputusan tentang peserta didik meliputi pengelolaan pembelajaran, penempatan peserta didik sesuai dengan jenjang atau jenis program pendidikan, bimbingan dan konseling, dan menyeleksi peserta didik untuk pendidikan lebih lanjut. Keputusan penilaian terhadap suatu hasil belajar sangat bermanfaat untuk membantu peserta didik merefleksikan apa yang mereka ketahui, bagaimana mereka belajar, dan mendorong tanggung jawab dalam belajar

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2014. Evaluasi Pembelajaran (Prinsip Teknik Prosedur). Bandung: Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Asruh, dkk. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Cipta Pustaka Media.
Jihad, Asep., dan Abdul Haris. 2013. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo
Muri, A Yusuf. 2015. Asesmen dan Evaluasi Pendidikan (Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan Pengendalian Mutu Pendidikan). Jakarta: Kecana.
Ratnawulan, Elis., dan A. Rusdiana. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Pustaka Setia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!