Sunday, October 21, 2018
Home > Artikel > Pengertian Model Auditory Intellectually Repetition (AIR)

Pengertian Model Auditory Intellectually Repetition (AIR)

Menurut Sagala (2009: 175) model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Dan model dapat dipahami sebagai:
a. Suatu tipe atau desain.
b. Suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan langsung diamati.
c. Suatu sistem asumsi-asumsi, data-data dan inferensi-inferensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu objek atau peristiwa.
d. Suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja.
e. Suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner.
f. Penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya.

Pengertian Model Auditory Intellectually Repetition (AIR)

Menurut Dedi Rohendi dkk (2011) menyatakan bahwa istilah AIR merupakan kependekan dari Auditory Intellectually Repetition yang merupakan komponen dari model pembelajaran tersebut .Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Intellectually yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan. Sedangkan Repetition merupakan pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pengerjaan soal, pemberian tugas atau quis.
a. Auditory
Auditory berarti indera telinga digunakan dalam belajar dengan cara menyimak, berbicara, persentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Menurut Sarbana (2012) auditory sebagai salah satu modalitas belajar, yaitu bagaimana kita menyerap informasi saat
berkomunikasi ataupun belajar dengan cara mendengarkan. Indera telinga digunakan dalam belajar dengan cara mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat dan menanggapi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, sebagian besar proses interaksi siswa dengan siswa dilakukan dengan komunikasi yang melibatkan indera telinga. Tiel sebagaimana dikutip oleh Herlina Humaira (2012 : 13) mengatakan bahwamasuknya informasi melalui auditory bentuknya haruslah berurutan, teratur dan membutuhkan konsentrasi yang baik agar informasi yang masuk ditangkap dengan baik yang kemudian akan diproses dalam otak.
Menurut Meier dalam Nirawati (2009) ada beberapa gagasan untuk meningkatkan pengguna sarana auditory dalam belajar:
a) Mintalah pembelajar berpasang-pasangan membincangkan secara terperinci apa saja yang baru mereka pelajari dan bagaimana mereka akan menerapkannya.
b) Mintalah pembelajar mempraktikkan suatu keterampilan atau memperagakan suatu fungsi sambil mengucapkan secara sangat terperinci apa yang sedang mereka kerjakan.
c) Mintalah pembelajar berkelompok dan berbicara nonstop saat sedang menyusun pemecahan masalah atau membuat rencana jangka panjang.

b. Intelectually
Intellectually berarti belajar dengan berpikir untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan berpikir perlu dilatih melalui latihan bernalar, mencipta memecahkan masalah, mengkonstruksi dan menerapkan. Menurut Gunarsa (1991), intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.

Sedangkan menurut Meier dalam Nirawati (2009) mengatakan, bahwa intellectually dalam belajar akan terlatih jika guru mengajak siswa terlibat dalam aktivitas memecahkan masalah, menganalisis pengalaman, mencari dan menyaring informasi, dan merumuskan pertanyaan.
Menurut meixer bahwa intellectual ada beberapa kegiatan diantaranya:
a) Menganalisis, memecahkan masalah, fokus, perhatian.
b) Menghubungkan informasi dan mensintesis.
c) Menilai, membandingkan, memeriksa, dan mencocokkan.
d) Mengerjakan perencanaan strategi
e) Melahirkan gagasan kreatif
f) Mencari dan menyaring informasi
g) Merumuskan pertanyaan

c. Repetition
Morisin sebagaimana dikutip oleh Herlina Humaira (2012 : 13)
mengatakan bahwa hasil belajar yang merupakan perubahan sungguh-sungguh dalam perilaku dan pribadi seseorang bersifat permanen. Dalam proses belajar, ada sejumlah informasi atau materi pelajaran yang diharapkan tersimpan di dalam memori otak. Pada kenyataannya, hal-hal yang telah dipelajari sulit sekali dimunculkan bahkan tidak dapat direproduksikan lagi dari daya ingat kita. Peristiwa inilah yang disebut lupa.
Pengulangan tidak berarti dilakukan dengan bentuk pertanyaan atau informasi yang sama, melainkan dalam bentuk informasi yang dimodifikasi. Dalam memberi pengulangan, agar pemahaman siswa lebih mendalam dan lebih luas guru dapat memberikan soal, tugas atau kuis. Dengan diberikan soal dan tugas, siswa akan terbiasa menyelesaikan persoalan-persoalan matematika. Sedangkan dengan pemberian kuis siswa akan senantiasa siap dalam menghadapi tes ujian.
Proses mempertahankan informasi ini dapat dilakukan dengan adanya kegiatan pengulangan informasi yang masuk dalam otak. Dengan adanya latihan dan pengulangan akan membantu dalam proses mengingat, karena semakin lama informasi tersebut tinggal dalam memori jangka pendek, maka akan semakin besar kesempatan memori tersebut ditransfer ke memori jangka panjang. Hal ini sejalan dengan teori Ausubel mengenai pentingnya pengulangan. Suherman dan Winataputra (2012) menjelaskan, ―Pengulangan yang akan memberikan dampak positif adalah pengulangan yang tidak membosankan dan disajikan dengan cara yang menarik‖. Menarik di sini bisa dalam bentuk informasi yang bervariatif. Dengan pemberian soal, tugas, atau kuis. Siswa akan mengingat informasi- informasi yang diterimanya dan terbiasa untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan matematika.

Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran Auditory, Intelectually,Repetition (AIR)

a) Keunggulan Model Auditory, Intelectually, Repetition (AIR):
Siswa dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematika secara komprehensif.
Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.

b) Kelemahan Auditory, Intelectually, Repetition (AIR) :
Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan mudah. Upaya memperkecil Guru harus punya persiapan yang lebih matang sehingga dapat menemukan masalah matematika tersebut.
Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
Memerlukan waktu yang panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!